Derita Menjadi Perangkat Desa: Antara Pengabdian dan Beban
Menjadi perangkat desa sering
dipandang sebagai pekerjaan yang sederhana, dekat dengan masyarakat, dan penuh
pengabdian. Namun di balik itu, ada banyak derita yang jarang terlihat oleh
publik. Artikel ini mencoba mengurai sisi lain dari kehidupan perangkat desa,
yang sering harus menanggung beban berat demi menjalankan roda pemerintahan di
tingkat paling bawah.
1. Beban Administrasi
yang Berat
- Perangkat desa dituntut untuk memahami berbagai
aturan, mulai dari Undang-Undang Desa, Peraturan Menteri, hingga regulasi
daerah.
- Banyak laporan yang harus dibuat: APBDes, laporan
kegiatan, hingga pertanggungjawaban dana desa.
- Sering kali perangkat desa tidak memiliki latar
belakang administrasi atau akuntansi, sehingga pekerjaan terasa sangat
membebani.
2. Tanggung Jawab Dana
Desa
- Dana desa yang jumlahnya miliaran rupiah harus
dikelola dengan transparan dan akuntabel.
- Kesalahan kecil dalam pencatatan bisa berujung pada
pemeriksaan aparat hukum.
- Perangkat desa sering merasa was-was, karena mereka
harus memastikan setiap rupiah digunakan sesuai aturan.
3. Waktu Kerja yang
Tidak Terbatas
- Tidak ada istilah jam kerja pasti. Warga bisa
datang kapan saja untuk meminta pelayanan.
- Perangkat desa harus siap melayani, bahkan di luar
jam kantor, termasuk malam hari atau hari libur.
- Kondisi ini membuat mereka sulit membagi waktu
untuk keluarga.
4. Tekanan Sosial dari
Masyarakat
- Perangkat desa berada di posisi yang serba salah:
harus menegakkan aturan, tapi juga menjaga hubungan baik dengan warga.
- Ketika ada program bantuan, perangkat desa sering
dituduh pilih kasih atau tidak adil.
- Mereka menjadi sasaran keluhan, kritik, bahkan
kemarahan masyarakat.
5. Gaji dan Kesejahteraan yang
Terbatas
- Walaupun tanggung jawab besar, gaji perangkat desa
relatif kecil dibandingkan beban kerja.
- Banyak perangkat desa yang harus mencari
penghasilan tambahan di luar tugas resmi.
- Hal ini menimbulkan dilema: antara fokus pada
pengabdian atau mencari tambahan untuk kebutuhan keluarga.
6. Harapan dan
Pengabdian
Meski penuh derita, banyak
perangkat desa tetap bertahan karena merasa tugas ini adalah amanah. Mereka
menjadi ujung tombak pembangunan desa, penghubung antara pemerintah dan
masyarakat, serta penjaga keadilan di tingkat lokal.
Kesimpulan
Derita menjadi perangkat desa
bukan sekadar soal gaji kecil atau beban administrasi, tetapi juga soal
tanggung jawab moral dan sosial yang sangat besar. Mereka harus menyeimbangkan
antara aturan, kebutuhan masyarakat, dan keterbatasan pribadi.
Perangkat desa adalah pahlawan
tanpa tanda jasa di tingkat lokal. Menghargai kerja mereka berarti menghargai
fondasi pemerintahan yang sesungguhnya: dari desa untuk Indonesia.

Posting Komentar untuk "Derita Menjadi Perangkat Desa: Antara Pengabdian dan Beban"
Posting Komentar