Asal Muasal "Pengemis"
![]() |
| Ilustrasi |
Kata “pengemis” ternyata memiliki
akar sejarah yang unik: istilah ini diyakini lahir dari tradisi Raja di Keraton
Surakarta, khususnya masa pemerintahan Paku Buwono X, yang gemar membagikan
sedekah pada hari Kamis sore. Dikarenakan dilakukan pada hari kamis (dalam Bahasa
jawa penyebutannya “kemis) kemudian muncul Bahasa Ketika di tanya “mau kemana?”
“ngemis (sedekah hari kemis) maksudnya”. Dari kebiasaan itu, muncul istilah
“pengemis” yang kemudian masuk ke dalam bahasa Indonesia sebagai sebutan bagi
orang yang meminta-minta.
Asal Usul Kata “Pengemis”
- Definisi dalam KBBI
Kata pengemis
berarti orang yang meminta-minta di muka umum untuk mendapatkan penghasilan.
- Tradisi Keraton Surakarta
Pada masa
pemerintahan Paku Buwono X (Raja Surakarta Hadiningrat), beliau dikenal
sangat dermawan. Setiap Kamis sore menjelang Jumat, sang Raja keluar
dari istana menuju Masjid Agung dengan berjalan kaki.
- Di sepanjang perjalanan, rakyat miskin sudah
menunggu untuk menerima sedekah. Yang di lakukan pada hari kamis (penyebutan
Bahasa jawa “kemis”)
- Kebiasaan ini kemudian dikenal sebagai “ngemis”
(dari kata hari kemis ada juga yang mentakan berasal dari ngemisi dalam bahasa Jawa, yang
berarti meminta).
- Dari tradisi itu, istilah “pengemis” melekat pada
orang yang meminta-minta.
- Perkembangan Makna
Awalnya, kata
ini terkait dengan ritual pemberian sedekah oleh Raja. Namun, seiring
waktu, istilah tersebut bergeser menjadi label bagi orang yang menjadikan
aktivitas meminta-minta sebagai mata pencaharian.
Analisis Linguistik
- Kata dasar “ngemis”
Diduga berasal
dari bahasa Jawa, yang berarti meminta atau memohon.
- Awalan “pe-”
Dalam bahasa
Indonesia, awalan “pe-” membentuk kata benda yang menunjukkan pelaku suatu
tindakan.
- Pengemis = pelaku tindakan meminta.
Konteks Sosial dan Budaya
- Sedekah dalam Islam
Tradisi Raja
Surakarta sejalan dengan ajaran Islam tentang sedekah, terutama pada hari Jumat
yang dianggap istimewa.
- Transformasi sosial
Dari praktik
mulia berbagi, istilah ini berubah menjadi stigma sosial terhadap orang yang
menggantungkan hidup pada belas kasihan orang lain.
- Fenomena modern
Kini, pengemis
hadir di berbagai kota besar Indonesia, sering kali dikaitkan dengan masalah
urbanisasi, kemiskinan, dan bahkan jaringan eksploitasi.
Kesimpulan
Kata pengemis bukan
sekadar label sosial, tetapi memiliki akar sejarah dari tradisi sedekah Raja
Surakarta. Dari praktik mulia berbagi rezeki pada hari kemis (kamis),
istilah ini berkembang menjadi sebutan umum bagi orang yang meminta-minta.
Pemahaman asal-usul kata ini memberi kita perspektif bahwa fenomena pengemis
tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga terkait dengan sejarah budaya dan nilai
sosial masyarakat.

Posting Komentar untuk "Asal Muasal "Pengemis""
Posting Komentar